Buku ini lahir dari kegelisahan atas realitas yang kian sering terjadi di ruang-ruang pendidikan: ketika teguran berubah menjadi laporan, ketika niat mendidik dimaknai sebagai kekerasan, dan ketika proses hukum berjalan lebih cepat daripada dialog. Di antara tuntutan profesionalisme dan bayang-bayang kriminalisasi, guru berada pada posisi yang kerap dilematis—dituntut tegas, tetapi rentan disalahartikan; diharapkan membentuk karakter, namun dibatasi oleh ketakutan akan konsekuensi hukum.
Melalui rangkaian kisah reflektif, buku ini mengajak pembaca menyelami sisi manusiawi seorang guru: pergulatan etika, suara nurani, kecemasan, sekaligus keberanian untuk tetap mendidik dengan integritas. Setiap cerita menjadi cermin atas relasi yang kompleks antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan negara dalam memaknai disiplin, perlindungan anak, serta otoritas pendidikan.
Buku ini tidak menawarkan jawaban hitam-putih atau solusi instan. Ia justru menghadirkan ruang perenungan—bahwa pendidikan bukan sekadar soal aturan, melainkan tentang kebijaksanaan dalam menempatkan hukum dan etika secara proporsional. Di tengah perubahan sosial dan meningkatnya kesadaran hak, diperlukan keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan terhadap profesi guru.
Jika kisah-kisah ini membuat pembaca terusik, merenung, atau bahkan berbeda pendapat, maka buku ini telah menemukan maknanya: membuka percakapan yang jujur tentang keberanian mendidik di zaman yang serba sensitif dan penuh konsekuensi.
Reviews
There are no reviews yet.